Transformasi Model Gambusu’ Menjadi Gambusu’ Eletrik Pada Musik Batti’-Batti’ Di Kepulauan Selayar Sebagai Praktik Dekulturasi

Hamrin Hamrin(1*),

(1) Universitas Negeri Makassar
(*) Corresponding Author




DOI: https://doi.org/10.26858/p.v4i1.12981

Abstract


Gambusu’ digolongkan sebagai alat musik petik berjenis dawai. Gambusu’ digunakan di pertunjukan Batti’-Batti’ di Kepulauan Selayar. Fenomena sekarang ini terdapat perubahan signifikan yang ditemukan pada bentuk instrumen gambusu’, yakni berbentuk gitar elektrik. Perubahan tersebut dianggap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang bersifat tradisional karena spirit dari ke-tradisonalannya masih hadir, tetapi dalam bentuk fisik dan perilaku sudah dekulturasi. Bentuk instrument Gambusu’ model gitar elektrik tidak hadir begitu saja, hal tersebut dipengaruhi oleh perubahan sosial masyarakat. Pada praktik yang terindikasi dekulturasi pada instrument Gambusu’ mulai berubah secara signifikan pada bentuk organologi serta di sisi lain kebiasaan-kebiasaan musikal mengalami perkembangan di mana teks lagunya sudah agak longgar yakni terdapat pencampuran bahasa daerah, bahasa Indonesia dan juga bahasa Inggris. Dengan demikian, kesenian ini tidak hanya dimainkan di tempat yang sakral seperti di acara pernikahan tetapi juga dilaksanakan di acara seremonial. Hal demikian terjadi karena diduga karena masuknya kebudayaan Barat, di mana anak muda di era itu kebanyakan menggunakan gitar elektrik yang sangat marak digunakan baik itu di acara pertunjukan seni dan festival seni musik yang berimplikasi pada praktik kesenian batti’-batti’. Atas dasar fenomena itu sehingga para pengrajin dan pemain musik Gambusu’ menginisasi gerakan untuk mentransformasikan bentuk Gambusu’ dengan model gitar elektrik yang akhirnya praktik tersebut sebagai praktik dekulturasi.

Keywords


Gambusu’; Batti’-Batti’; Dekulturasi

Full Text:

PDF

References


Caturwati, Endang. (2008). Tradisi Sebagai Tumpuan Kreativitas Seni. Cetakan Pertama. Bandung : Sunan Ambu STSI Press Bandung. http://Alat Musik Tradisional Indonesia.blogspot.com. Diakses pada tanggal 30 Mei 2016 pukul 2015) Kodiron. (1988). Akulturasi Sebagai Mekanisme Perubahan Kebudayaan, dalam Humaniora. Yogyakarta: BPPF dan PSI, Fakultas Sastra U & M. Ratna, N.K. (2010). Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu-Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. (2011). Metode Penelitian Seni. Semarang: Cipta Prima Nusantara. Satriadi (2016) Pamor Kawali Dalam Masyarakat Bugis. S2 Thesis, Institut Seni Indonesia Surakarta. Soekanto, Soerjono, dkk. (2013). Sosiologi (Suatu Pengantar). Jakarta : Rajawa. Taslim, S. A. I, N, Murtana. (2019) Peristiwa Teater Tu(m)buh Sebagai Konstruksi Politik Tubuh. Panggung, 29 (2), 102114.


Article Metrics

Abstract view : 50 times | PDF view : 4 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 JURNAL PAKARENA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Alamat Redaksi:

Program Studi Pendidikan Sendratasik
Fakultas Seni dan Desain
Universitas Negeri Makassar

Gedung DE Lantai 2 Kampus FSD UNM Parangtambung 
Jl.
Daeng Tata Makassar 90224

E-mail: pakarena@unm.ac.id

Lisensi Creative Commons
Jurnal Pakarena  dilisensikan di bawah  Lisensi Atribusi-Nonkomersial 4.0 Internasional Creative Commons .

Pakarena diindeks oleh