Faktor Resiko Munculnya Plasmodium spp. Resisten di Kecamatan Tapalang, Sulawesi Barat

Yenni Yusuf(1*),

(1) Universitas Hasanuddin
(*) Corresponding Author




DOI: https://doi.org/10.35580/bionature.v15i1.1547

Abstract


Resistensi obat anti-malaria harus diantisipasi secara dini karena belum ada obat yang dapat menggantikan terapi lini pertama terkini, Artemisinin based combination therapy (ACT). Karena itu organisasi kesehatan dunia WHO menetapkan beberapa langkah untuk menghindari atau mengatasi munculnya parasit Plasmodium yang resisten terhadap obat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan resiko timbulnya resistensi parasit di daerah endemik malaria di Kecamatan Tapalang, Sulawesi Barat. Delapan pasien positif malaria menjalani pengobatan dengan artesunat-amodiakuin (AS-AQ) selama 3 hari. Pasien di follow up selama masa pengobatan untuk melihat atau menanyakan efek samping obat yang dialami yang dapat mempengaruhi kepatuhan pasien terhadap prosedur pengobatan. Efek samping yang terbanyak adalah mual (50%), muntah (37.5%), lemas (25%) dan sakit kepala (25%). Selain itu dilakukan wawancara terhadap petugas kesehatan mengenai cara pemberian  AS-AQ. Dari wawancara diketahui bahwa AS-AQ biasanya diberikan dalam dosis terbagi dalam sehari, sehingga berpotensi menyebabkan dosis obat yang kurang optimal. Adanya potensi kurangnya kepatuhan pengobatan akibat efek samping obat yang mengganggu dan dosis obat yang kurang optimal merupakan faktor resiko resistensi terhadap ACT.


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 173 times | PDF view : 243 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2015 bionature



Jurusan Biologi 
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Makasar

Flag Counter