Pengujian Sederhana Tanah Liat Lokal Guna Meningkatkan kualitas Gerabah Tradisional Menjadi Keramik Hias Berglasir Di Dusun Sandi Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar

Ali Ahmad Muhdy(1*), Jalil Jalil(2), Irfan Irfan(3),

(1) Universitas Negeri Makassar
(2) Universitas Negeri Makassar
(3) Universitas Negeri Makassar
(*) Corresponding Author



Abstract


This research is an effort to improve the quality of pottery into ceramic art by conducting various experiments on the application of glaze technique. Because the quality of local clay in the area around the pottery crafters is doubtful only for low burn (pottery) maximum of 800 °, it will be used some alternative raw materials of clay, such as clay from Pangkep regency and clay from Gowa regency estimated to be glazed with a high burn above 800 °. Another alternative is to mix the local clay from the craftsmen area with the clay from the outside with materials processing techniques to obtain soil material that is more plastic and resistant to the glaze. The main problem of the research is the art of pottery has survived for hundreds of years in Takalar District, but the quality improvement is so slow that it is less competitive in the national market and global market, another problem is that most artisans of more than 60% still survive by making traditional temporary pottery art the price of traditional pottery art is still very low. 11 local soil materials as research samples continued at the glazing stage with dyeing techniques using FT360 (transparent), 19I (blue), and 19 (white) glaze materials. Combustion is done with a continuous furnace made of fireproof stones using wood fuel (teak residue) and can be measured the burning temperature using pyrometer. The burning plan is carried out for 5 hours until it reaches 1100 °. The result of glaze burning generally shows that all glazed samples can survive at 1100 ° and melt glazes. The disadvantage is the glaze technique that has not been standardized to cause uneven glaze results, there are still many cracked (cracked) glaze surface. However, the glazed ceramic body has not changed even can remain stable, it's just that glaze technique needs to be improved in further research. 

Abstrak. Pengujian Sederhana Tanah Liat Lokal Guna Meningkatkan kualitas Gerabah Tradisional Menjadi Keramik Hias Berglasir Di Dusun Sandi Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.  Penelitian ini merupakan upaya peningkatan kualitas gerabah menjadi seni keramik dengan melakukan berbagai eksperimen penerapan teknik glasir.  Oleh karena kualitas tanah liat lokal di daerah sekitar perajin gerabah berada diragukan hanya bisa untuk bakaran rendah (gerabah) maksimal 800°,  maka akan di gunakan beberapa alternatif bahan baku tanah liat, seperti tanah liat dari Kabupaten Pangkep maupun tanah liat dari Kabupaten Gowa, yang diperkirakan dapat diglasir dengan bakaran tinggi di atas 800°. Alternatif lainnya adalah mencampur tanah liat lokal dari daerah perajin dengan tanah liat dari luar dengan teknik pengolahan bahan untuk memperoleh bahan baku tanah yang lebih plastis dan tahan untuk di glasir. Permasalahan utama penelitian adalah seni kerajinan gerabah telah bertahan selama ratusan tahun di Kabupaten Takalar, namun peningkatan mutu berjalan sangat lambat sehingga kurang kompetitif di pasar nasional maupun pasar global, permasalahan lainnya adalah sebagian besar perajin lebih dari 60 % masih bertahan dengan membuat seni gerabah tradisional sementara harga seni gerabah tradisional masih sangat rendah. 11 bahan tanah local sebagai sampel  penelitian berlanjut pada tahap pengglasiran dengan teknik celup menggunakan bahan glasir FT360 (transparan), 19I (biru), dan 19 (putih). Pembakaran dilakukan dengan tungku kontinu terbuat dari batu tahan api dengan menggunakan bahan bakar kayu (sisa kayu jati) dan dapat diukur suhu bakarnya menggunakan pyrometer. Rencana pembakaran dilakukan selama 5 jam hingga mencapai 1100°. Hasil pembakaran glasir menunjukkan pada umumnya seluruh sampel yang diglasir dapat bertahan pada suhu 1100° dan glasir meleleh. Kelemahannya adalah teknik glasir yang belum sesuai standar menyebabkan hasil glasir belum merata, masih banyak pecah-pecah (retak) permukaan glasirnya. Namun demikian body keramik yang diglasir tidak mengalami perubahan bahkan dapat tetap stabil, hanya saja teknik glasir perlu lebih diperbaiki pada penelitian selanjutnya.

 


Keywords


bahan baku, teknik glasir, keramik

Full Text:

XML

References


A. M, Khalil, 1996, “Potensi dan Penggunaan Bahan Keramik Hias di Sulawesi – Selatan”Makalah hasil penelitian tanah liat di beberapa daerah di Sulawesi selatan. Makassar: Departemen Pertambangan dan Energi.

Astuti, Ambar, 2008, Keramik, Ilmu dan Proses Pembuatannya, Yogyakarta: Program SPMA Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta kerjasama dengan Arindo Nusa Media.

BPS, 2012, Kabupaten Takalar Dalam Angka 2012, Takalar: Badan Pusat Statistik.

Heskett, John, 1986, Desain Industri, Penerjemah Candra Johan & Penyunting Agus Sachari, Jakarta: Diterbitkan atas Kerja sama dengan Indes Kelompok Studi Desain Jurusan Desain ITB.

Masri, Andry, 2010, Strategi Visual Bermain Dengan Formalistik dan Semiotik Untuk Menghasilkan Kualitas Visual Dalam Desain, Yogyakarta: Jalasutra.

Miles, M.B. dan Huberman, 1992, Analisis Data Kualitatif, (Penerjemah: Tjetjep Rohendi Rohidi), Jakarta: (UI-PRESS).

Natas, 2001, Pengenalan Keramik, petunjuk Praktis Mengenai Teknik dan Material, Bandung: Indy Label

Nelson, Glenn C. 1984, Ceramics : A Potter’s Handbook, New York, 5Th. Edition, Holt Rinchart and Windston.

Poesponegoro, Marwati Djoened, et.al, 2008, Sejarah Nasional Indonesia III zaman pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Sachari, Agus., 1986, Paradigma Desain Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali.

Sachari, Agus, dan Yan Yan S., 2001, Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi Budaya, Bandung: Penerbit ITB.

Sp., Soedarso, 2006, Triologi Seni, Penciptaan, Eksistensi, dan Kegunaan Seni, Yogyakarta: Badan Penerbit Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

_________, 2000, “Revitalisasi Seni Rakyat dan Usaha Memasukkannya kedalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia.”Makalah pada Temu Seni Rupa Fort Rotterdam 2000, dalam Pinisi edisi KhususRevitalisasi Seni Rupa Tradisional, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni. Vol. 6 No. 2, Makassar: FBS UNM.

_________, Album Keramik Tradisional Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983/1984.

Sudiyati, Noor, 2012, “Keramik Singkawan Kalimantan Barat, Kajian Aspek Estetika” Disertasi Doktor Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Sutopo, H.B., 2006, Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Widagdo, 1993, “Desain Teori dan Praktek” Makalah Disampaikan pada Dies Natalis ke-34, Intitut Teknologi Bandung.

__________, 1999, “Pengembangan Desain Bagi Peningkatan Kria”Makalah Seminar Konperensi Tahun Kria dan Rekayasa ITB, Bandung.

__________, 2005, Desain dan Kebudayaan. Bandung: Penerbit ITB.


Article Metrics

Abstract view : 52 times | XML view : 2 times ';



Copyright (c) 2017 TANRA: Jurnal Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Alamat Redaksi / Tata Usaha:
Program Studi Desain Komunikasi
Fakultas Seni dan Desain
Universitas Negeri Makassar
Telp. (0411) 888524 Faks. (0411) 888524
Kampus Fakultas Seni dan Desain
Jl. Daeng Tata, Parang Tambung,
Makassar, Sulawesi Selatan

e-mail: [email protected]

[email protected]

Lisensi Creative Commons
Jurnal TANRA  dilisensikan dengan  Lisensi Internasional Atribusi-Nonkomersial 4.0 Creative Commons .

Jurnal TANRA diindeks oleh