GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PEREMPUAN: STUDI KASUS DI DUA SD KECAMATAN MUARA BADAK

Widyatmike Gede Mulawarman(1*), Budi Raharjo(2), Zulkipli Zulkipli(3),

(1) FKIP Universitas Mulawarman dan Budi Rahardjo, Jl. Muara Pahu Kampua Gunung Kelua Samarinda
(2) FKIP Universitas Mulawarman dan Budi Rahardjo, Jl. Muara Pahu Kampua Gunung Kelua Samarinda
(3) SD Muara Badak
(*) Corresponding Author



Abstract


Tujuan penelitian ini mendeskripsikan (1) Gaya kepemimpinan kepala sekolah perempuan di SDN 002 Muara Badak dan di SDN 025 Muara Badak Kecamatan Muara Badak dalam hal pengambilan keputusan, (2) Pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dan (3) untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penghambat dan pendukung kepemimpinan kepala sekolah perempuan di SDN 002 Muara Badak dan di SDN 025 Muara Badak Kecamatan Muara Badak. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sebagai subjek penelitian adalah kepala sekolah SDN 002 Muara Badak dan Kepala Sekolah SDN 025 Muara Badak Kecamatan Muara Badak. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian yaitu: (1) Gaya kepemimpinan yang diterapkan kepala sekolah SDN 002 Muara Badak dan SDN 025 Muara Badak Kecamatan Muara Badak dalam pengambilan keputusan adalah menggunakan gaya kepemimpinan demokratif yakni kepala sekolah lebih mengutamakan hubungan interpersonal, terbuka, menerima ide, saran dan masukan, serta memiliki sikap bersahabat yang baik dengan rekan kerja. (2) Dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen gaya kepemimpinan kepala sekolah SDN 002 Muara Badak dan SDN 025 Muara Badak Kecamatan Muara Badak menerapkan gaya kepemimpinan demokratif partisipatif hal ini dibuktikan dalam setiap pelaksanaan program sekolah, kepala sekolah lebih mengutamakan kerjasama tim, terbuka terhadap masukan dan saran dari para guru, dan selalu mendengarkan pendapat dari semua guru di dalam rapat sekolah, (3) Faktor penghambat kepala sekolah SDN 002 Kecamatan Muara Badak dan SDN 025 Muara Badak Kecamatan Muara Badak adalah kondisi geografis sekolah, dana operasional sekolah, sarana dan prasarana sekolah yang belum sesuai Standar Nasional Pendidikan. Faktor pendukungnya adalah tenaga pendidik yang telah berkualifikasi S1, Lembaga pendidikan bersertifikat ISO, mendapat tunjangan khusus untuk guru sekolah terpencil, adanya dukungan keluarga, guru serta kepercayaan masyarakat.