NASIONALISME DIPERTANYAKAN KEMBALI (Renungan Perjalanan Sejarah Bangsa 71 Tahun Indonesia Merdeka)

Anzar Abdullah(1*), Hannati Hannati(2),

(1) 1Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Pejuang RI Makassar
(2) Guru PKn SMP Negeri 16 Makassar
(*) Corresponding Author



Abstract


Ide tentang nation adalah sebuah realitas yang dibayangkan. Demikian Benedick Anderson dalam bukunya “Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism (1983). Nasionalisme atau wacana kebangsaan, lahir bukan untuk mengusung kepentingan sebuah ras, agama atau daerah tertentu, melainkan untuk sesuatu yang dibayangkan. Dengan demikian, batas-batas nominal dan cultural sebuah bangsa memang telah diciptakan, sejalan dengan cita-cita imajinasi, dan discourse yang hidup di antara para tokoh pergerakan nasional yang ikut mengusungnya. Bangsa sebagai komunitas yang “dibayangkan” karena pada prinsipnya mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Tetapi secara elok, meskipun mereka tidak saling jumpa secara fisik, bahkan pula tidak pernah saling mendengar tentang mereka secara seksama, namun di dalam benak masing-masing terdapat hubungan emosional sebagai comradeship, yakni semangat persaudaraan yang membentang secara horizontal. Inilah yang merupakan kepercayaan tentang nasib bersama, masa depan bersama, kesetiakawanan yang membentuk solidaritas horizontal. Factor ini pula yang memungkinkan banyak orang bersedia berkurban untuk “misi suci” demi “pembayangan” cita-cita luhur bangsa yang diyakini bersama. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan tentang bagaimana nasionalisme itu menjadi bagian dari jati diri bangsa, sebagai perekat dalam membangun masyarakat multi etnik di Indonesia. Masihkah nilai-nilai nasionalisme itu menjadi pondasi kekuatan sebuah nagara bangsa sebagaimana pada awal kelahiran Republik ini,? ataukah sudah mengalami distorsi atau pengikisan dalam konteks kekinian. 


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 475 times | PDF view : 478 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.