Literasi Kebangsaan dalam Menangkal Fanatisme Kesukuan pada Organisasi Daerah Mahasiswa Bone Barat (IPMIBAR)

Mario Mario(1*), Firdaus Suhaeb(2), Sopian Tamrin(3), Musrayani Usman(4), M Ridwan Said(5),

(1) Prodi Sosiologi FIS UNM
(2) Prodi Sosiologi FIS UNM
(3) Prodi Sosiologi UNM
(4) Universitas Hasanuddin
(5) Dosen Pendidikan Sosiologi
(*) Corresponding Author




DOI: https://doi.org/10.26858/humanis.v20i1.21631

Abstract



Mencermati perkembangan sosial dalam konteks kebangsaan begitu banyak problem yang belum selesai. Sala-satunya adalah persoalan fanatisme kedaerahan. meskipun keterbukaan informasi dan teknologi mempermudah dalam proses kontak sosial. Namun ternayata tidak serta merta membangun relasi sosial yang iknlusif.

Mahasiswa sebagai referesentasi kalangan muda intelek harusnya menjadi contoh perilaku di tengah masyarakat. Namun konflik di kalangan mahasiswa menjadi sangat disayangkan karena telah mencederai simbol masyarakat berpendidikan terutama mahasiswa yang aktif pada organisasi kedaerahan. Keberadaan organisasi daerah idealnya mewadahi putra – putri daerah dalam satu kelompok sekaligus menjadi ruang sosial untuk bersilaturahmi. Namun pada perkembangannya begitu banyak kasus perkelahian (konflik) ternyata melibatkan organisasi daerah. Berangkat dari fenomena tersebut sehingga mendorong tim PKM melakukan literasi kebangsaan pada sala-satu organisasi daerah.

Mitra yang akan berkolaborasi dalam kegiatan ini adalah organisasi daerah mahasiswa bone barat yang bernama IPMIBAR. Melihat fanatisme sebagai problem akut yang seringkali melanda organisasi kedaerahan maka dilakukan upaya langkah edukatif melalui kegiatan literasi kebangsaan. Materi yang diturunkan yakni Pertama; Masyarakat multicultural, Kedua ; Peran Pemuda membangun masyarakat inklusif, Ketiga; Mahasiswa dan konflik sosial, Keempat ; Elaborasi kearifan dengan Pancasila, serta Kelima ; Literasi Kebangsaan.

Melalui materi itu diharapka pelajar dan mahasiswa yang ada di IPMIBAR bisa memahami peran dalam konteks kehidupan berbangsan dannegara. Selain itu kegiatan ini juga diharapkan bisa mengikis fanatisme kesukuan yang melanda mahasiswa khususnya yang aktif di IPMIBAR. Sehingga setelah kegiatan ini terjadi perubahan cara pandang juga cara membangun relasi ditengah kehidupan kota yang plural.

Abstract
Observing social developments in the context of nationality, there are so many unfinished problems. The only one is the issue of regional fanaticism. although the disclosure of information and technology facilitates the process of social contact. However, it turns out that it does not necessarily build inclusive social relations.


Students as a reference for young intellectuals should be an example of behavior in society. However, conflicts among students are very unfortunate because they have injured the symbols of the educated community, especially students who are active in regional organizations. The existence of regional organizations ideally accommodates regional sons and daughters in one group as well as being a social space to stay in touch. But in its development so many cases of fights (conflicts) turned out to involve regional organizations. Departing from this phenomenon, it encouraged the PKM team to carry out national literacy in one regional organization.


The partner who will collaborate in this activity is the regional organization of West Bone students called IPMIBAR. Seeing fanaticism as an acute problem that often plagues regional organizations, educational steps are taken through national literacy activities. The materials that were passed down were First; Multicultural society, Second; The Role of Youth in building an inclusive society, Third; Students and social conflicts, Fourth ; Elaboration of wisdom with Pancasila, and Fifth; National Literacy.


Through this material, it is hoped that students and students at IPMIBAR can understand the role in the context of the life of the nation and state. In addition, this activity is also expected to erode the tribal fanaticism that plagues students, especially those who are active in IPMIBAR. So that after this activity there was a change in perspective as well as how to build relationships in the midst of plural city life.

 


Keywords


Literasi, kebangsaan, fanatisme

Full Text:

PDF

References


Affandi, Hakimul, Ikhwan. 2004. Akar Konflik Sepanjang Zaman, Elaborasi Pemikiran Ibnu Khaldun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Choirul, Mahfud. 2006. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Damanhuri. 2008. Pendidikan Multikultural. Jurnal Edukasi, vol IV. No 1

Irwansyah, Idham. 2019. Pelatihan Literasi Digital pada Komunitas Mata Literasi Kabupaten Gowa. Makassar: LP2M UNM.

Jumadi. 2009. Tawuran Mahasiswa sebagai Konflik Sosial di Makassar. Makassar: Raihan Intermedia.

Lynch, James. 2000. Multicultural Educa Principles and Practica. London: Boston

and Henley.

Molan, Benyamin, Nugroho, dkk. 2009. Multikulturalisme; Belajar bersama dalam Perbedaan. Jakarta : PT INDEKS.


Article Metrics

Abstract view : 177 times | PDF view : 43 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Mario ., Firdaus Suhaeb, Sopian Tamrin

License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/

DITERBITKAN OLEH:

Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri Makassar

Kampus Gunung Sari, Fakultas Ilmu Sosial Lt.2, Jl. Raya Pendidikan, Makassar. 90222.

Telepon 082395232077

E mail: humanis01jurnal19@gmail.com


 

DIINDEKSIKAN OLEH

 

 

DILISENSI OLEH:

Lisensi Creative Commons
Humanis dilisensikan dengan Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 .