KELAYAKAN PENGEMBANGAN AGRIBISNIS JAGUNG PULUT LOKAL PADA ERA JAGUNG HIBRIDA

M. Arsyad Biba

Abstract


ABSTRAK

Kelayakan Pengembangan Agribisnis Jagung Pulut Lokal pada Era Jagung Hibrida. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Maros pada tiga kecamatan, yaitu di Kecamatan Lau, Bantimurung dan Tompubulu, mulai Juni – Desember 2012, bertujuan untuk mengetahui kelayakan usahatani jagung pulut lokal di era jagung hibrida. Penelitian ini menggunakan data primer, yaitu data yang diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner, dan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk laporan, buku statistik, internet, dinas pertanian dan Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura dan perusahaan swasta yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Jumlah responden 33 orang yang terdiri atas petani jagung pulut lokal dan penjual jagung di warung, kios dan pasar yang dipilih secara sengaja. Data primer ditampilkan dalam bentuk tabel kemudian dibahas secara deskriptif-kualitatif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jagung pulut lokal dapat berproduksi lebih tinggi  jika dikelola dengan teknologi budidaya sesuai anjuran. Pemasaran jagung pulut lokal lebih menguntungkan jika dijual dalam bentuk tongkol muda segar dan rebus karena prosesnya lebih cepat dan biaya murah. Selain itu, pemanfaatan jagung pulut lokal di kalangan masyarakat adalah berupa nasi jagung, buras jagung, perkedel, jagung bakar dan jagung brondong yang  dihidangkan di warung makanan. Dari segi budidaya, jagung pulut lokal hanya berumur 70 hari dan dapat ditanam 5 kali dalam setahun (IP500), tahan hama-penyakit dan benihnya dapat ditanam secara terus- menerus dan harganya lebih murah Sedangkan jagung hibrida Bisi-2 umurnya lebih panjang (100) hari, memerlukan biaya sarana prosduksi lebih tinggi, benihnya tidak dapat ditanam dua kali dan harganya lebih mahal.

Kata kunci : Kelayakan,  Jagung Pulut Lokal, Era Jagung Hibrida.

 

ABSTRACT

The Feasibility of Local Waxy Corn Agribusiness Development In the Era of Hybrid Corn. The research was carried out in three districts in Maros regency, which is in District of Lau, Bantimurung and Tompubulu, from June to December 2012, It aimed to know the feasibility of local waxy corn farming in the era of hybrid corn. This study uses primary data, ie data obtained through interviews using questionnaires, and secondary data, the data obtained in the form of reports, statistical books, internet, and Seed Supervision and Certification Institute of Food Crops and Horticulture and private companies in connection with this research. The number of respondents were 33 people consisting of local farmers and sellers waxy corn in food stall and markets were purposively selected. Primary data presented in tabular form and then discussed in a descriptive-qualitative. The results of the experiment indicated that local waxy corn can reach higher yield when cultivated with the recommended cultivation  technology. The marketing of Local waxy corn is more profitable if sold  in the form of fresh young cob and boiled because the process is faster and cheaper cost. In addition, the use of waxy corn in the local community is a boiled corn on the cob,  corn-rice, corn rice made with coconut cream wrapped in corn leaves, croquette, roasted corn, and popcorn are served in food stalls. In terms of cultivation, local waxy corn is only 70 days old and may be planted 5 times a year (IP500), resistance to pest and diseases and the seed can be planted continu ously and the cost is cheaper than hybrid corn seed. While Bisi-2 age is longer (100) days, require more input and higher costs, their seeds can not be planted twice and are more expensive.

Keywords: Feasibility,  Local Waxy Corn, Hybrid Corn Era.


Article Metrics

Abstract view : 64 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 M. Arsyad Biba

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.